Siapa sih yang tidak kenal dengan jahe? Rempah satu ini sudah seperti bahan yang wajib ada di dapur orang-orang Indonesia. Baik sebagai bumbu penyedap, penghangat tubuh, hingga jadi andalan saat kita masuk angin. Manfaat yang banyak, membuat kita penasaran, bagaimana cara budi daya jahe sendiri?
Jahe, atau dengan nama ilmiah Zingiber officinale, adalah tanaman rimpang yang khasiatnya sudah diakui sejak dahulu. Konon, tanaman ini tidak diketahui pasti asal-usulnya, namun dipercaya berasal dari Asia Tropis dan telah dibudidayakan secara luas di sana.
Dari India, jahe kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa, Afrika, hingga Amerika. Di Indonesia sendiri, jahe punya banyak nama lokal yang unik. Ada halia di Aceh, sipadeh di Minangkabau, jae di Jawa dan Sunda, hingga lia di Flores.
Nah, selain kelezatan dan kehangatan yang ia tawarkan, jahe juga menyimpan segudang manfaat untuk kesehatan. Secara turun-temurun, jahe telah dimanfaatkan untuk mengurangi bengkak, mengatasi rematik, meredakan sakit kepala, hingga mengobati mual dan muntah.
Cara dan Langkah-Langkah Budi Daya Jahe
Melihat betapa luar biasanya jahe ini, pasti terbersit keinginan untuk menanamnya sendiri di rumah. Jangan khawatir, budi daya jahe ternyata sangat mudah dan dapat kita lakukan dengan murah. Melansir dari buku Serial Obat Asli Indonesia terbitan BPOM, berikut adalah cara budi daya jahe!
1. Memilih Bibit dan Pembuatan Tunas

Langkah pertama yang paling penting adalah memilih bibit jahe yang berkualitas. Kita perlu memastikan bibit berasal dari sumber yang jelas, sehat, dan tidak tercampur dengan varietas lain. Lantas, bagaimana ciri-ciri bibit jahe yang siap tanam?
- Rimpangnya sudah tua (minimal 10 bulan).
- Berserat tinggi dan kasar.
- Kulitnya licin dan keras, tidak mudah mengelupas.
- Warnanya mengkilat, tanda bernas.
Nah, pilihlah rimpang dengan 2-3 bakal mata tunas yang baik. Berat sekitar 25-60 gram untuk jahe putih besar, atau 20-40 gram untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Pilih sesuai preferensi masing-masing, jenis-jenis jahe tersebut punya sedikit perbedaan warna, ukuran, rasa, aroma, dan tentunya harga.
Sebelum menanamnya, bibit jahe perlu kita buat menjadi tunas terlebih dahulu. Caranya sederhana, hamparkan rimpang di atas jerami atau alang-alang tipis di tempat teduh, tetapi hindari menumpuknya. Selama penyemaian, siram setiap hari supaya tetap lembap.
Dalam 2-3 minggu, tunas akan muncul dengan tinggi seragam 1-2 cm. Setelah itu, seleksi rimpang yang bertunas, potong sesuai ukuran, dan yang terpenting, rendam ia ke dalam campuran larutan antibiotik dan fungisida selama 30-60 menit untuk mencegah infeksi penyakit. Kemudian, kering-anginkan, maka bibit siap ditanam!
2. Persiapan Lahan

Jahe menyukai tanah yang gembur dan bersih dari gulma. Olah tanah dengan cara menggarpu atau mencangkul sedalam 30 cm. Pastikan untuk membersihkan ranting atau sisa tanaman yang sulit lapuk. Tanah untuk lahan jahe, sebaiknya tidak padat.
Jika tanah miring, buatlah bedengan searah lereng untuk mencegah erosi. Untuk lahan datar, bisa menggunakan sistem guludan atau parit. Jangan lupa, jika pH tanah rendah (asam), berikan kapur pertanian atau dolomit untuk meningkatkan pH tanah ke kisaran 6,8-7,4, yang sangat cocok untuk jahe.
3. Penanaman Bibit dan Jarak Tanam yang Tepat
Tanam bibit jahe sedalam 5-7 cm dengan posisi tunas menghadap ke atas. Hindari penanaman dengan terbalik karena bisa menghambat pertumbuhannya. Jarak tanam juga sangat penting untuk memastikan setiap tanaman mendapatkan ruang tumbuh yang cukup.
Untuk jahe putih besar yang akan kita panen tua, gunakan jarak tanam 80×40 cm atau 60×40 cm. Sedangkan untuk jahe putih kecil dan jahe merah, jarak tanam 60×40 cm sudah cukup. Jarak tanam ini akan mengurangi persaingan antar tunas untuk mendapatkan unsur hara, air, dan cahaya.
4. Pemupukan

Pemupukan adalah kunci untuk mendapatkan hasil panen rimpang yang melimpah. Kita bisa menggunakan pupuk organik untuk memperbaiki tekstur dan aerasi tanah, serta pupuk anorganik (terutama NPK) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.
Untuk budi daya organik, kita bisa memberikan kompos 60-80 ton/hektar (sekitar 1,5-2 kg/tanaman) di awal tanam. Berikan pupuk sisipan kompos setiap 2-3 bulan, 4-6 bulan, dan 8-10 bulan.
Sementara itu, untuk budi daya konvensional, berikan pupuk kandang 20 ton/hektar 2-4 minggu sebelum tanam, dan tambahan pupuk kandang lagi 20 ton/hektar saat tanaman berumur 4 bulan. Untuk pupuk kimia, gunakan SP-36 dan KCl masing-masing 300-400 kg/hektar saat tanam, serta Urea 400-600 kg/hektar yang terbagi jadi tiga dosis pada umur 1, 2, dan 3 bulan setelah tanam.
5. Pemeliharaan Rutin dan Pengendalian Hama
Agar jahe tumbuh subur dan bebas hama penyakit, lakukan pemeliharaan rutin seperti penyiangan gulma, penyulaman, dan pembunbunan. Saat tanaman berumur 3-6 bulan, gulma bisa sangat mengganggu. Lakukan penyiangan secara intensif, tetapi hati-hati agar tidak merusak perakaran.
Jika ada tanaman yang mati atau tidak tumbuh normal, segera sulam dengan bibit cadangan pada umur 1-1,5 bulan setelah tanam. Lalu, setelah rumpun jahe memiliki 4-5 anakan, lakukan pembumbunan. Tujuannya agar rimpang yang terbentuk selalu tertutup tanah, sehingga perkembangannya optimal dan tidak busuk.
Jahe rentan terhadap beberapa hama dan penyakit, terutama busuk rimpang yang disebabkan oleh bakteri. Jika ada tanaman yang terserang layu bakteri, segera cabut dan bakar untuk mencegah penyebaran. Hama lain seperti lalat rimpang dan kutu perisai juga perlu diwaspadai dan ditangani sesuai anjuran.
Kapan Jahe Bisa Dipanen?
Jahe untuk konsumsi umum bisa kita panen pada umur 6-10 bulan, sementara untuk kebutuhan pembibitan selanjutnya, panen pada umur 10-12 bulan. Cara panennya mudah, cukup bongkar seluruh rimpang menggunakan garpu atau cangkul, lalu bersihkan tanah yang menempel.
Nah, sebagai informasi, salah satu tanaman yang akan kalian pelajari saat mengunjungi Eduwisata Kebun Herbal adalah jahe. Program ini terbuka bagi sekolah, lembaga, universitas, dan instansi lainnya dengan berbagai macam layanan.
Eduwisata Kebun Herbal adalah bagian dari ekosistem HIU Group, sebuah program edukatif yang menggabungkan wisata alam dengan edukasi tanaman obat, kesehatan alami, dan dunia industri. Program ini hadir untuk memberikan pengalaman berkesan, edukatif, dan inspiratif bagi semua kalangan.
Berlokasi di lingkungan asri dengan ratusan jenis tanaman berkhasiat obat, Eduwisata Kebun Herbal menjadi tempat yang tepat untuk belajar secara langsung mengenal tanaman herbal, cara pengolahan tradisional maupun modern, serta memahami manfaat kesehatan dari kekayaan alam Indonesia.




