KKL di HIU: Mahasiswa Farmasi UMPP Produksi Obat Herbal hingga Susun Strategi Bisnis

Mulai dari meracik obat tradisional hingga menyusun strategi bisnisnya, keseruan ini berlangsung di saat mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Herbal Indo Utama (HIU), Kamis (30/7/2026).

Melalui program Eduwisata Kebun Herbal, acara dibuka dengan ilmu marketing langsung dari Manajer Marketing HIU, Bapak Erik Arya Tandi. Setelah paham teorinya, tak lama mahasiswa langsung diajak turun ke lapangan untuk melihat proses produksinya dari hulu ke hilir.

Mahasiswa UMPP Kunjungi Sarana Produksi HIU Group

Mahasiswa berkeliling melihat langsung rumah pembibitan, kebun herbal, tempat pasca-panen, fasilitas produksi obat dan kosmetik, hingga laboratorium. Dan selama melawat, mahasiswa dibebaskan untuk bertanya, berdiskusi, kepada ahli yang bertugas, hingga mendokumentasikan prosesnya.

Puncak acara terjadi di siang hari. Dipandu Manajer Maklon HIU, Bapak An’im Fathoni Arianto, mahasiswa diajak bersimulasi, merancang Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dengan Business Model Canvas (BMC). Antusiasme tampak saat praktik meracik herbal bubuk menggunakan alat-alat sederhana.

Tidak berhenti pada tahap produksi, mahasiswa juga ditantang menjadi pebisnis. Mereka diminta merancang strategi pemasaran produk buatan mereka dan langsung mempresentasikannya di depan tim ahli perusahaan serta dosen pendamping.

Kegiatan Praktik dan Presentasi Membuat Herbal UMPP

Dosen Farmasi UMPP, Bapak Dwi Bagus Pambudi, M.Farm., M.H.Kes., memuji kegiatan ini sebagai pengalaman yang luar biasa lengkap. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya diajari soal pangan, obat tradisional, dan kosmetik, tapi juga dibekali ilmu marketing sampai praktik langsung membuat produknya

“Pengalaman, materi yang luar biasa, terkait dengan pangan, obat tradisional, kosmetik, dan kemudian bisa berbagi (materi) marketing produk juga. Mahasiswa kami juga dibekali dengan ilmu-ilmu terkait dengan UKOT (Usaha Kecil Obat Tradisional), sampai kemudian ke pelatihan bikin produk.” ujarnya.