Pegagan adalah tanaman unik dengan ciri khas daun berbentuk ginjal atau kipas. Terkenal dengan nama ilmiah Centella asiatica, ternyata nenek moyang kita telah lama memanfaatkannya sebagai obat. Nilai ekonomi yang tinggi, membuat budi daya pegagan tampaknya sangat menggiurkan, ya?
Selain populer dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Ayurveda, pegagan saat ini banyak menjadi buruan industri farmasi dan kosmetik modern. Nah, di Eduwisata Kebun Herbal, kami berkesempatan bertemu dengan Bapak Marno untuk belajar budi daya pegagan. Penasaran bagaimana hasilnya?
Pegagan Bukan Sekadar Tanaman Jamu Biasa
“Tanaman pegagan ini memiliki banyak sekali manfaat,” ujar Bapak Marno, sambil menunjukkan satu genggam daun pegagan segar. “Mulai dari melancarkan peredaran darah, meredakan nyeri sendi, hingga meningkatkan fungsi otak.”
Setelah kami telusuri, manfaat-manfaat yang disebutkan Bapak Marno ternyata bukan sekadar klaim tradisional saja. Pegagan mengandung senyawa aktif penting seperti asiaticoside, madecassoside, hingga senyawa bernama asiatic acid.
Senyawa-senyawa tersebut bekerja secara sinergis untuk meningkatkan produksi kolagen, mempercepat penyembuhan luka, serta bertindak sebagai agen anti-inflamasi dan antioksidan yang begitu kuat. Tak heran jika pegagan saat ini menjadi bahan baku favorit pada formula obat dan produk skincare, ya?
Kunci Sukses Budi Daya Pegagan Ada di Perawatan dan Perbanyakan

Salah satu yang menjadi daya tarik utama dari kegiatan budi daya pegagan adalah kemudahannya. Namun, seperti tanaman herbal lainnya, pegagan juga membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam hal penyiangan dari gulma dan hama.
“Budi daya tanaman ini relatif mudah, tapi perawatannya perlu diperhatikan, terutama dalam hal penyiangan,” kata Bapak Marno. Pegagan bisa tumbuh sangat cepat dan berkompetisi ketat dengan gulma. Jika terlambat menyiangi, gulma bisa menghambat pertumbuhan pegagan.
Maka dari itu, di Eduwisata Kebun Herbal, Bapak Marno melakukan penyiangan sebanyak dua kali selama satu siklus masa panen. Ini untuk memastikan pegagan dapat tumbuh secara optimal tanpa gangguan gulma.
Selain penyiangan, Bapak Marno juga menjelaskan metode perbanyakan yang unik dan efisien. “Setiap tunas pegagan akan mengeluarkan sulur, dan sulur ini kemudian akan mengeluarkan akar. Akar ini bisa kita potong dan tanam kembali,” paparnya.
Metode ini sangat ramah lingkungan karena tidak perlu mencabut seluruh tanaman saat panen. “Saat panen, kita hanya mengambil batang dan daunnya saja, sementara akarnya masih bisa bertunas lagi,” jelasnya.
Dengan teknik ini, Bapak Marno mengaku bahwa dalam jangka waktu sekitar dua bulan, tanaman sudah siap untuk dipanen kembali. Ini menjadikan budi daya pegagan bersifat berkelanjutan dan ekonomis, tidak seperti tanaman-tanaman herbal lainnya.
Kualitas Pegagan Bergantung dengan Pemupukan

Aspek penting lainnya yang memastikan kualitas pegagan premium adalah pemupukan. Di Eduwisata Kebun Herbal, kami melihat pemupukan dilakukan dengan bahan organik. “Kami menggunakan kompos dari limbah produksi yang difermentasi untuk pemupukan,” ujar Bapak Marno.
Penggunaan pupuk organik tidak hanya menjaga kesuburan tanah dan kesehatan tanaman, tetapi juga memastikan produk akhir bebas dari residu kimia. Hal ini sangat penting, lantaran hasil panen di Eduwisata Kebun Herbal memang didistribusikan ke industri sebagai bahan obat dan kosmetik berkualitas tinggi.
Nah, pengalaman belajar di Eduwisata Kebun Herbal membuktikan bahwa pengetahuan terbaik datang dari praktik langsung. Dibimbing oleh Bapak Marno, pengunjung tak hanya melihat kebun pegagan saja, tetapi juga bisa memahami proses di baliknya.
Eduwisata Kebun Herbal terbuka bagi seluruh lembaga, organisasi, maupun instansi yang ingin belajar seputar tanaman obat, industri, hingga kewirausahaannya. Saat ini, Eduwisata Kebun Herbal rutin menerima kunjungan industri dari sekolah hingga universitas dengan layanan yang bervariasi.





